Sunday, March 02, 2014

Tak Perlu Tertawa atau Menangis


Sore ini cuaca sangat cerah, langit menguning di ufuk barat. Tak seperti biasanya, beberapa hari belakangan, sore menjadi mendung dan suram karena masih banyak pemberitaan mengenai banjir, letusan gunung, atau kasus-kasus korupsi penyelenggara Negara dan impotensi hukum yang mengisi pemberitaan di media.

Sore ini berbeda. Cuaca yang indah ini mendukung dan membuat hati kian semangat melakukan suatu hal yang menyegarkan. Olahraga sore mungkin. Mencoba mengalihkan pikiran dari kesibukan rutinitas perkuliahan, organisasi, tugas jurnal, atau sekedar berkeluh kesah karena belum sempat sarapan. Ya esok adalah senin, dan seperti kebanyakan, hari senin dianggap sebagai momok karena kita akan kembali pada rutinitas yang biasa, bagai gondola yang bergerak pada lintasan yang itu-itu saja. Tanpa kita sadari bahwasah-nya awal minggu akan sangat menentukan perjalanan atas konsepsi yang kita rancang selama satu minggu ke depan, satu bulan ke depan, bahkan untuk seterusnya...

Aku tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa akan melakukan olahragi di Minggu sore ini, bahkan mungkin kita tidak akan pernah sadar apa yang akan kita hadapi pada sore hari tiap harinya bahkan apa yang akan terjadi 5 menit ke depan dalam prosesi kehidupan tak akan pernah kita ketahui. Tapi kumantapkan hati untuk mengeluarkan sepedaku yang tampak berdebu dari gudang dan memompa ban yang kelihatan kempes karena sudah lama tidak digunakan. Setelah rampung dengan semua persiapan, sepatu kat, rantai sepeda yang telah di periksa putarannya, jaket hoody dan tak lupa playlist lagu dari handphone disambungkan dengan headset dan sebuah buku bacaan yang sedikit lagi rampung aku selesaikan (berjaga-jaga apabila lelah dan tidak ada kerjaan bisa saja ku baca), aku meluncur mengayuh sepeda membelah keramaian jalan raya di Minggu sore di antara para pemburu liburan mingguan lainnya yang tinggal hitungan jam lagi...

Ya, sore itu jalan raya lebih padat daripada biasanya. Maklum, liburan yang mereka dapatkan hanya akan bertahan selama beberapa jam ke depan sebelum mereka memasuki rentetan aktifitas saat Senin menyapa esok hari. Sama seperti ku yang tanpa motivasi yang jelas mengayuh sepeda diantara kerumunan kendaraan bermotor, berebut jatah liburan ditemani dengan cuaca yang cerah dan lantunan lagu dari music player yang sedari awal berangkat telah menemaniku. Sore ini memang lain dari biasanya kawan, udaranya sejuk, langitnya cerah dan sedikit menguning karena sang surya akan segera kembali ke peristirahatannya di bagian barat. Seperti memberikan kita suatu kabar bahwa setiap kita pasti akan beristirahat, melepaskan penat setelah beraktifitas. Bahkan beristirahat untuk selamanya setelah “kepenatan” yang dinamakan kehidupan. Bukan kah begitu, tak satu pun di Bumi ini yang tak beristirahat bukan? Bahkan membaca tulisan ini bisa saja menjadi bentuk istirahat dari suatu ha; yang sedang memenuhi pikiran kita.

Mungkin saja...

Dan setelah 30 menit lebih ku kayuh sepedaku ini, sampailah aku pada tujuan keberangkatanku sejak awal. Salah satu kawasan terkenal, institusi penyandang nama Negara ini. Sekaligus tempat dimana ribuan pemuda mencari ilmu dan pengalaman sebelum akhirnya menapaki jejak kehidupan yang sesungguhnya, termasuk diriku ini. Ya disinilah aku akan menghabiskan waktuku selama 4 tahun jika sesuai dengan perencanaanku, mengais peruntungan, berharap kelak setelah lulus akan kutebus semua pahit perjuanganku dengan manisnya “kesuksesan”. Kampus yang dikatakan sebagai kampus perjuangan, Universitas Indonesia.

Kali ini aku sudah berhadapan langsung dengan gerbang utama kampus ini, berdiri gagah dengan beberapa penjaga masih melakukan tugasnya mengawasi orang yang keluar masuk ke kawasan ini layaknya perumahan elite anggota dewan yang terhormat. Hanya saja mungkin perbedaannya kampus ini masih terbuka untuk umum, dan karena merupakan instansi pendidikan maka kawasan ini juga menjadi suatu percontohan bagaimana kaum terdiidik atau kaum intelegensia bagi masyarakat umum. Kawasan ini adalah harapan bangsa ini, harapan dari bangsa yang namanya bersatu dengan nama instasi ini, yaitu Indonesia. Dan seperti semua perguruan tinggi lainnya yang tersebar di seluruh negeri ini, harapan itu akan tetap sama. Bahwa masa depan dan cita-cita bangsa ini tergantung pada bagaimana para pejuang muda dari kampus bisa memaksimalkan potensinya setelah mengenyam pendidikan tinggi yang mungkin hanya dirasakan 2% saja dari seluruh penduduk negeri ini.

Namun kawan, nampaknya mimpi tadi tak seindah teorinya. Saat ini, di era modernisme, di era globalisasi, di era ketika paham-paham asing lebih mengakar daripada nilai dan norma bangsa, nampaknya mimpi itu terasa sulit dicapai. Kita telah tergerus arus modern ini, terkikis dengan paham kapitalis, ketika sumber kekayaan bangsa hanya dimiliki oleh 0,002% penduduknya. Dan apa yang lebih parah kawan? Yang lebih parah adalah ketika kaum inteleginsia bangsa juga ikut termakan budaya ini, saat mereka lulus yang dikejar hanyalah manisnya “kesuksesan” untuk diri sendiri atau hanya golongan. Nampaknya proses dan mimpi besar yang diharapkan pada 2% penduduk yang mampu merasakan pendidikan tinggi juga tidak dimaknai oleh seluruh 2% tersebut.

Sejenak pandanganku teralihkan, tidak terasa bahwa aku telah memasuki bagian kampus yang paling ramai dilalui mahasiswa, di depan halte stasiun UI. Disana tampak jelas, wajah-wajah penerus negeri ini, wajah yang menunggu dan menanti kedatangan kendaraan yang akan menjemput mereka, gelisah mungkin karena tugas-tugas yang menunggu harus diselesaikan di kosan, dan teringat bahwa besok sudah harus berjibaku dengan padatnya kuliah aktifitas lain seperti lomba-lomba, organisasi, kepanitiaan atau buat mereka yang sudah lulus dan menanti lamaran pekerjaan memanggil. Hal ini sama dengan wajah-wajah penduduk negeri ini, yang mungkin masih berada pada kondisi yang kurang layak, menunggu dan menanti perubahan hidup mereka dengan gelisah, berharap kelak negeri ini dapat memberikan suatu arti lebih daripada hanya pengumuman bahwa kita telah merdeka dari merdeka dari penjajahan kolonial, namun ternyata masih dalam bentuk penjajahan lainnya yang lebih kejam, yaitu kebodohan.

Bagiku sendiri, kebodohan yang menjajah negeri ini dapat dibagi 2 kawan. pertama memang kebodohan karena masih banyak putra-putri bangsa yang belum bisa merasakan pendidikan tinggi seperti kita ini mahasiswa, kualitas pendidikan yang tidak merata menyebabkan bangsa kita sulit mengembangkan diri. Kita mungkin terlalu bangga saat dikatakan bahwa tanah kita ini kaya, bahkan dalam suatu nyanyian dikatan bahwa tongkat dan kayu bisa jadi tanaman. Tak terhitung nilai Sumber Daya Alam yang kita miliki, namun pemerataan kualitas pendidikan yang timpang menjadi kendala atas mutu Sumber Daya Manusianya. Sedih sekali kawan mengingat bahwa dibagian timur negeri ini, mungkin masih banyak saudara kita yang belum bisa merasakan kehidupan yang layak. Bahkan tak usah jauh-jauh kawan, tidak sampai 3 jam dari Ibu Kota Negara bisa saja kita temukan hal serupa...

Namun, biarpun begitu masih ada suatu kebodohan yang lebih parah yang dilanda oleh negeri ini kawan. Apa itu? Itu adalah ketika orang-orang yang dikatan pintar di negeri ini malah dengan tanpa perasaan bersalah membodoh-bodohi bangsa sendiri demi perut dan kenyamanan diri sendiri atau segilintir golongan saja. Kita tertelan pada suatu kasus kebodohan yang mengakar. Terkadang hanya memikirkannya saja aku pesimis kawan, sedih bahkan tak sampai sepatah kata pun dapat mengungkapkan betapa carut-marutnya kondisi negeri kita ini kawan jika kita mau berpikir lebih jauh dan dalam.

Aku meyakini bahwa banyak sekali orang pintar dan cerdas di negeri ini, banyak sekali mahasiswa-mahasiswa bernilai lebih dari emas karena kepintarannya dan ia adalah putra bangsa. Lahir dan besar di tanah air. Di bumi pertiwi. Ia berbahasa Indonesia, bahkan mengenyam pendidikan di instasi milik pemerintah yang sebenarnya dibiayai atau setidaknya di subsidi oleh uang rakyat... Sehingga salah kah apabila tadi dikatakan bahwa banyak orang yang menunggu dan menanti dengan gelisah perubahan pada negeri ini, dan harapan itu tentu saja diemban lebih besar oleh orang yang pintar dan memiliki kelebihan untuk menjalankan perubahan yang dimaksud. Karena kaum intelegensia yang benar adalah orang yang memiliki kelebihan lebih atas orang pada umumnya, dan menuntut lebih atas dirinya sendiri bahwa dialah yang mampu menjalankan dan mengemban tuntutan itu. Bukan mereka yang membodoh-bodohi bangsanya karena ketamakan.

Hari mulai gelap, tak terpikir sejauh ini olehku, bahwa jalan-jalan sore yang seharusnya tenang dan damai dapat menjadi sarana berpikir kritis yang baik. Melihat kejadian disekitar, melihat orang-orang disekitar, mengoreksi diri sendiri dari tuduhan dan pandangan yang sama atas koreksi besar-besaran kita terhadap orang lain. Ternyata benar kawan, mengoreksi orang lain itu lebih mudah daripada mengoreksi diri. Aku pun ternyata belum sejauh itu berbuat banyak untuk negeri. Bahkan aku pun hanya mahasiswa biasa saja, tanpa pengaruh dan kekuatan untuk berbuat besar. Lalu buat apakah khayalanku ini? Sejauh ini? Apakah ini hanya akan menjadi kontradiksi dan apakah aku nantinya akan berubah menjadi orang yang hipokrit dan paradoks???

Tetiba saja, playlist-ku memutarkan lagu berjudul “Cerita Tentang Gunung dan Laut”. Aku sudah sering mendengarkan lagu ini, belakangan memang aku tertarik dengan band yang menyanyikannya yaitu Payung Teduh, aku rasa band ini punya ciri khas yang unik dan keorisinalan lagu mereka memiliki makna tertentu, tidak berusaha menjadi band dengan pendapatan tinggi yang mengikuti arus industry music kini yang terlihat “berlebihan” bahkan kehilangan nilai seni dan puitisnya.

Dibagian liriknya kutemui kata-kata seperti berikut “tak perlu tertawa atau menangis pada gunung dan laut, karena gunung dan laut tak punya rasa...”. Sekilas terpikir ulang oleh ku kembali atas semua hal yang kupikirkan sejak tadi mengenai mimpi ini, mengenai negeri ini. Ya, tak perlu lah kita tertawa atau menangis pada kejadian yang menimpa Negeri ini. Negeri ini tak butuh tawa kita, atau tangis kita, penduduknya dan isinya lebih membutuhkan tindakan kita. Bahkan sekecil apapun itu. Bahkan selemah apapun itu. Selama kita melakukannya dengan tulus, selama niat kita lurus. Tak perlu dulu kita menjadi besar untuk membuat negeri ini besar. Negeri ini mungkin sudah cukup dengan segala hipokrit dan pembodohan yang terjadi. Kita tahu jelas bahwa kapitalisme telah banyak merubah wajah-wajah bangsa kita yang dari ramah-tamah menjadi ramah-tamak (ramah namun ada maunya dan ketamakan lebih mendominasi). Aku tak pernah membayangkan apakah nantinya aku akan bisa berbuat banyak untuk Negeri ini, tapi ingin sekali kusaksikan perjuanganku meraih manisnya “kesuksesan” setelah lulus nanti bukan hanya kesuksesan yang diukur dari materi. Aku berharap juga pada mereka yang mempunyai kemampuan lebih untuk mengajak dan mempengaruhi, mereka yang juga hatinya baik dan tulus. Agar mau menjadi bagian dari pemerintahan ini. Terlalu banyak orang baik kini yang sudah tidak peduli lagi, mempertahankan status baiknya dengan tidak ikut turun ke dalam “lumpur” pemerintahan yang dikatakan kotor dan busuk. Tetapi mungkin sekedar mengulang kembali pernyataan Soe Hok Gie, ia mengatakan bahwa menurutnya politik adalah barang yang paling kotor, namun ketika kita tidak ada jalan lain lagi maka terjunlah. Dan katakanlah benar apabila itu adalah kebenaran dan katakanlah salah apabila itu adalah kesalahan. Apakah ada yang lebih puitis daripada kebenaran, kawan? 

Waktu sudah mendekati maghrib, sayup-sayup suasana senja yang diikuti tenggelamnya matahari di ufuk barat mulai terasa. Dan setelah membeli minuman untuk mengusir rasa dahaga, ku kayuh kembali sepedaku menuju perjalanan pulang. Hari ini memang berbeda dari biasanya kawan, semoga aka nada hari yang berbeda seperti ini juga untukmu kawan.

                     Salam dari kamarku, bersama heningnya malam

Monday, January 13, 2014

Saya Bantu Turun Tangan - Sebuah Pandangan dan Alasan

Baru-baru ini saya memutuskan untuk menjadi relawan Turun Tangan untuk Pak Anies Baswedan untuk maju menjadi calon presiden hasil konvensi parta demokrat....

Saya sudah mengikuti banyak perkembangan berita dan rekam jejak beliau pada masa-masa sebelumnya, saya pun kaget dan terperangah bahwa masih ada orang baik dan bersih di Republik ini. Gak nyangka, saya kira orang-orang hebat dan berani tampil telah habis pada masa 1960an. Ketika banyak cendekiawan dan tokoh-tokoh hebat dari Indonesia yang saya bilang mampu disejajarkan dengan tokoh dunia. Dan mengenai hal ni saya ingin menuliskannya bagaimana saya mendukung dan pandangan saya tentang gerakan Turun Tangan yang dibawa oleh Pak Anies. Berikut adalah aasan mengapa saya mendukung gerakan turun tangan ini yang saya tuliskan serupa pada lembar pendaftaran :

Saya ingin masyarakat indonesia cerdas, mahasiswanya, gurunya, dosennya, pejabatnya, rakyatnya, dan semua kompenen Bangsa ini cerdas. Saya tidak ingin nanti yang dikenal dari bangsa ini hanyalah polemik-polemik bodoh, yang malah mengerdilkan diri dan menjadi bahan cerita selanjutnya untuk anak-cucu saya nanti. Saya mau anak-cucu saya nanti melihat bahwa bangsa ini hebat dan kuat karena mampu bertahan dari gempuran proses pengerdilan diri tersebut. Saya mau buktikan bahwa Indonesia bukan sekedar Negeri yg besar karena Sumber Daya Alamnya, tapi juga besar karena Sumber Daya Manusianya juga cerdas dan berkarakter.

Saya sedih ketika melihat adanya kaum marginal hanya bisa menonton ketidakadilan melalui layar kehidupan mereka. Mereka tak tahu apa arti permerintah yg sebenernya, apa arti itu negara, bagi mereka hanya menjalankan roda kehidupan bagaiamana hari ini bisa makan adalah suatu hal yg tak habis mereka perjuangkan tiap harinya. Apakah ini yang menjadi landasan Pemerintah kita, Nergara kita dalam "mengurus" dan "melindungi" rakyatnya? Apakah rakyat hanya dipakai sebagai media untuk mendapatkan kursi pemerintahan?? Saya heran. Saya seorang mahasiswa, namun dari begitu banyaknya kaum penerus bangsa yang cerdas ini, sudah sangat sedikit yang beranggapan bahwa sukses bukan hanya lulus kuliah lalu mendapatkan pekerjaan layak. Tapi sukses adalah mampu berkontribusi lebih untuk orang banyak, untuk bangsa dan negara. Tetapi hal ini wajar dimengerti karena peradaban yang dibentuk oleh para elite bangsa adalah peradaban memperkaya diri. Hilang sudah sosok-sosok bangsa, cendekiawan muda yang dulu merupakan murtiara bangsa ini. Dari kalangan pemimpin bangsa sebut saja mutiara hebat seperti sutan sjahrir, bung karno, bung hatta, dll. Kalangan penyelenggara negara seperti pak hoegeng, seorang kapolri yang bersih dan jujur. Dari kalangan cendekiawan muda seperti ahmad wahib dan soe hok gie. Mereka adalah orang-orang yang membanggakan negera ini karena dedikasinya untuk bangsa. Mereka yang memeberi aura positif dan membuat rakyat Indonesia bangga memiliki putra bangsa seperti mereka, orang yang hebat yang pemikirannya dan tindakanannya selevel dengan tokoh-tokoh hebat dunia.

Dan saya melihat sosok itu pada Pak Anies Baswedan. Ya memang betul, sosok itu tak hanya milik Pak Anies sendiri di Negara ini. Banyak sosok-sosok hebat lainnya yang ada dari belahan indonesia paling barat yaitu sabang hingga merauke. Tapi Pak Anies adalah sosok bersih yang dengan terbuka menyatakan keinginannya untuk maju membenahi Negeri. Orang seperti ini yang jarang ada, bersih dan berani tampil. Tak banyak yang seperti itu. Dan saya rasa ketika sosok seperti Pak Anies ini mampu menjadi pemimpin bangsa, maka akan banyak orang-orang baik lainnya yang hebat akan muncul. Dan semoga bangsa ini bisa lebih baik dengan semangat positif yang mulai berkembang di kalangan masyarakat karena pemimpinnya adalah suri tauladan yang baik.

Saya siap membantu dan saya ingin berkontribusi lebih banyak lagi untuk Negeri ini, untuk Bangsa ini :)

Sunday, December 22, 2013

Populer vs Kebenaran


“Saya bersedia menerima ketidak-populeran karena ada hal yang jauh lebih besar : Kebenaran” – 
Soe Hok Gie

Populer? Bukan kata yang sulit dicerna dan bukan kata yang tidak “populer”. Banyak hal mengapa “populer” menjadi hal yang menarik untuk dilirik atau dicoba. Agaknya mungkin masih terlalu rumit mengapa malam mini saya membahas mengenai popularitas dengan kata lainnya tentang kebenaran. Ditinjau dari segi bobot mungkin tulisan saya kali ini terkesan rendah dan tidak dalam. Ya memang bisa dibilang. Tapi pun saya masih belajar. Dan untuk soal alasan jelasnya kenapa topik ini saya ambil mungkin lebih kepada pengalaman pribadi saja dan intuisi saya mengenai kedua hal ini yang bisa begitu "dekat" dan berkaitan.

Biarpun populer memiliki arti yang “baik” seperti semakin populer seseorang maka semakin ia baik dalam segi pencitraannya, tapi belum tentu kebenarannya. Ya mengapa menurut saya kedua kata ini berkaitan karena keduanya memiliki pemaknaan yang sama baiknya namun beda konteks. Seseorang yang populer memiliki tingkat kebaikan baru pada level pencitraannya saja. Namun, bukan berarti seseorang dengan tingkat popularitas yang tinggi mengindikasikan dia baik pd kenyataannya. Hanya saja kuat maknanya jika kebaikan yang dimaksud baru pada pencitraannya saja, pada kuitnya. Dagingnya atau isinya belum tentu sebaik penampangnya. Itulah mengapa popularitas atau populer memiliki konotasi yang “baik” baru hanya pada tingkat pencitraan yang tampak.

Lalu bagaimana dengan kebenaran. Dalam matematika dasar, kita mengenal istilah mutlak, biasa disimbolkan dengan tanda {| |} yang memiliki makna tetap, tak terbantahkan, dan  absolute.  Nilai absolut atau nilai mutlak atau modulus adalah nilai suatu bilangan riil tanpa tanda plus atau minus. Baik  |a| ataupun  |-a| sama-sama bernilai  a.. Sebagai contoh, nilai absolut dari 3 adalah 3, dan nilai absolut dari –3 juga 3. Tanda mutlak mengisyaratkan bahwa seuatu angka haruslah selalu bernilai positif. Berapapun angka yang dimasukkan yang kita lihat adalah nilai “sejatinya” atau bagian positif dari angkanya. Begitu pun dengan arti dari kebenaran, bagaimanapun tampak dan wujudnya dilakukan kebenaran jelas menitikberatkan pada arti “sejatinya” tentang kebaikan. Tidak seperti popularitas, kebenaran muncul dan pada bagian isi dan dagingnya, tidak hanya kulit. Walaupun tampaknya kulit kebenaran begitu busuk dan hancur, namun aromanya dan isinya jelas harum dan manis.

Pertanyaan selanjutnya muncul bagaimana pengaplikasian dari kebenaran ini di dunia nyata? Tentu bukan barang yang mudah membawa dan menerapkan hal ini pada kondisi nyata di lapangan. Ketika jutaan hingga milliaran orang kini memilih untuk mengikuti arus deras demi mengejar ambisi pribadi, kebenaran nampaknya sulit dilakukan. Seolah menjadi seperti beban yang sulit dipegang krn harus banyak pengorbanan yang dilakukan bahkan untuk dirinya saja belum tentu aka nada hasil manis yang akan dipetik nantinya.

Kebenaran memang bukan “barang mewah” dilihat dari bagaimana ia berjalan dan tantangan serta pengorbanan yg dihadapi Ia juga tak semanis janji yang diberikan oleh popularitas yang tinggi, yang mungkin lebih mudah dan lebih nyaman untuk dijalani……. Tapi justru bukankah dengan berbagai problematika tersebut menjadikan kebenaran bukan hal yang “murah”? Walau sulit, tetapi hal yang patut diperjuangkan memang sepatutnya sulit. Juga bukankah perjuangan itu selalu pahit karena Surga terlalu manis? (hal ini saya kutip pada istilah yang saya baca)

Ya, kebenaran nampaknya tidak menjanjikan hasil yang manis begitu saja seperti apa yang nampak dijanjikan oleh popularitas. Kebenaran sulit sekali dicapai dengan segala macam perjuangannya. Bagaimana bisa hal yang begitu baik secara nilai dan isinya malah lebih pedih dilakukan daripada hal yang baik hanya dari tampaknya? Ya, tapi memang begitulah semestinya. Begitulah adanya. Bagaimana kebenaran memang menjadi hal yang “populer” diucapkan tapi sulit sekali dilakukan. Tujuan dari pembahasan mengenai pandangan saya mengenai populer atau popularitas ini vs kebenaran hanya untuk memberi pandangan lain, mengenai byk hal disekliling kita yang nampaknya telah banyak menipu kita.

Contoh mudahnya adalah kisah peruangan seorang ibu. Bagaimana perjuangan seorang ibu yang telah dengan susah payah membesarkan kita , begitu pahitnya ia menerima hujatan dan mengahadapi kerasnya kehidupan demi membesarkan anaknya. Namun hal itu bisa saja runtuh seketika saat ada seorang lain yang melakukan kebaikan pada kita dan lalu kita membandingkannya dengan perlakuan ibu kita yang kecil saat ia marah pada kita, lalu kita membatin dalam hati “ahh ibu mana pernah mengerti aku? Tidak seperti X yang memperlakukanku jauh lebih baik”. Bukankah kenikmatan instan hanya berlaku sesaat? Walau terasa manis bukankah hal seperti itu malah telah meruntuhkan kesucian yang telah dibangun sekian lama dan begitu besar. Begitulah kebenaran, ia tak akan terasa indah dan manis kalau kita tidak mau meresapi bagaimana ia ditanam, dipupuk dan dibesarkan. Dan apabila nilai-nilai kebenaran yang kita tanam telah tumbuh, bukan kah dengan itu rasanya sudah cukup buat kita menikmati hal yang kita punya walau terkadang perih dan pedih? Daripada bersembunyi dalam bayang-bayang semu popularitas yang malah menuntut kita untuk melindunginya dan mencoba bertahan untuk tetap nyaman dibawahnya?

Hal ini juga terjadi pada Negara kita, bagaimana yang pejabat yang tampak hanya tampak manis pada luarnya saja krn popularitasnya menutupi pejabat yang bersih memegang kebenaran dan nilai-nilai baik.

 Saya Cuma berpendapat dari tulisan saya ini, bahwa hal yang tidak kita ketahui tentang berbagai hal di dunia ini terlalu banyak, namun saya yakin dari sekian banyaknya hal tersebut kebenaran tetap adalah hal yang jauh lebih baik dan besar untuk dilakukan dari pada mengincar popularitas semata. Walau pada nyatanya nilai-nilai kebenaran antara setiap orang itu berbeda, tapi seperti pada tulisan saya yang sebelumnya saya katakana hakikatnya adalah kebenaran yang dimaksud adalah relative sama menyangkut hak asasi manusia atau hal yang banyak diajarkan pada agama. Semudah bahwa bahwa mengingkari tindak maksiat dalam hati adalah sekecil-kecilnya iman dalam konteks membela kebenaran.

Dan untuk menutup tulisan saya pada malam ini saya juga ingin mengutip beberapa kalimat dari lirik lagu Cahaya Bulan dalam Ost. GIE…..

Aku orang malam yg membicarakan terang

Aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang

Wednesday, December 11, 2013

Meniti Perubahan Lewat Tulisan

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” 


Ya hari ini ketika kebanyakan mahasiswa sibuk dengan persiapan UASnya saya mencoba menenangkan pikiran di depan laptop saya untuk menceritakan suatu kisah dan pandangan saya. Suatu pemikiran atau prinsip hidup yg coba saya bawa....

Banyak orang hebat yang saya kenal dan tau dari tulisan-tulisannya. Saya mengetahui bahwa mereka lahir dan ada untuk mengubah peradaban. Setidaknya pada orang-orang di sekitar mereka. Perubahan dalam bahasa indonesia yang berarti "hal (keadaanberubahperalihanpertukaran:". Menurut saya kekuatan mereka  untuk melakukan perubahan dapat melalui banyak hal. Kemampuan berorasi, kemampuan interaksi, kemampuan berpikir yang dalam, kemampuan mempengaruhi, kemampuan memberi teladan, kemampuan berani melakukan gebrakan, kemampuan untuk dapat selalu rendah hati, dll. Namun diantara semua kemampuan itu pasti didasari dengan nilai-nilai kebenaran dan idealisme masing-masing. Apa itu idealisme? Idealisme adalah aliran yang memandang suatu kondisi secara benar atau ideal yang bersumber pada pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan kebiasaan. Ideal yang dimaksud antara individu yang satu dengan individu yang lain tentu berbeda namun kemiripan yang cenderung nampak bahwa ideal disini adalah nilai-nilai yang sering kali berhubungan dengan hak asasi kemanusiaan. Tetapi kalau boleh saya menambahkan nilai kebenaran ini jg disokong kuat oleh unsur agama, karena pada dasarnya tidak ada agama yang mengajarkan hal yang tidak "baik". Kembali pada persoalan bagaimana kemampuan seseorang dapat melakukan perubahan didasari pada seberapa idealis pandangannya terhadap perubahan yang ingin dituju. Bagaimana cara-cara yang dilakukan untuk menuju perubahan tersebut juga diperhitungkan. Maka muncul lah orang-orang hebat dengan kapasitasnya masing-masing melakukan sebuah gerakan perubahan untuk pencapaian idealismenya yang diiringi dengan kemampuan-kemampuan masing-masing orang seperti yang saya ungkapkan diatas.

Jujur saja, saya memiliki paham idealis. Paham yang lahir dari pergulatan saya dengan kehidupan dan juga disokong dengan bagaimana keluarga saya membesarkan saya. Saya lahir dari keluarga kecil nan sederhana, Bapak (saya lebih suka menggunakan kata Bapak daripada Ayah) saya adalah seorang buruh mesin jahit dan Ibu saya sudah lama berhenti bekerja setelah melahirkan kakak pertama saya. Kehidupan kami tidak seperti kebanyak keluarga lain, kami hidup dengan kerja keras dan berpondasikan keyakinan teguh yang selalu dibawa kemana-mana oleh Bapak saya. Prinsip itu adalah "apapun yang kita dapatkan dan kita perjuangkan yang berasal dari hasil jerih payah sendiri akan lebih indah dan nikmat dibandingkan hal yg kita lewat minta-minta atau bantuan orang lain", Bapak selalu mengucapkan hal itu ketika saya masih kecil, saat dimana keadaan keluarga kami sulit. Dimana kedua kakak saya masih sekolah dan Bapak sedang sedikit mendapatkan order membetulkan mesin jahit. Tetapi hal ini selalu dibawa oleh Bapak, dan walau Bapak jarang berbicara pada saya, kenangan ini selalu terekam dan saya selalu terkagum bagaimana keteguhan hati seorang kepala rumah tangga ini untuk menghidupi keluarganya dengan kerja keras dan keringatnya sendiri. Menghindari sebisa mungkin bantuan orang lain yang baginya adalah hutang. 

Dan selama saya menjalani kehidupan ini, memang banyak saya temui ketidaksamaan pandangan atau presepsi mengenai arti idealis di tiap-tiap orang. Saya mendapati bahwa masing-masing individu punya latar belakang yang berbeda dan memiliki pandangan yang beragam pula bagaimana ia bersikap pada lingkungan dan bagaimana ia merefleksikan dirinya dari beragam kejadian yang terjadi pada dirinya. Dan dari latar belakang yang berbeda ini sy memahami bahwa pandangan sy "belum" tentu benar. Lalu apa maksud dari kesemuanya ini?

Dari beberapa poin yang saya jelaskan diatas, sy memiliki keyakinan kuat bahwa dari mana saya berasal memengaruhi bagaimana idealisme sy terbentuk. Dan bagaimana idealisme itu relatif memiliki kesamaan pandangan tentang hak asasi kemanusiaan. Dan tiap orang besar yg memiliki idealisme, cenderung memiliki kemampuan masing-masing supaya idealisme itu dapat tersalurkan dan membuat perubahan. Apakah kesemuanya ini mengindikasikan kalau saya adalah orang yg berambisi menjadi orang besar? Tidak. Saya tidak bermaksud begitu semua yg saya sampaikan diatas adalah sebuah penjelasan bahwa sebenarnya idealisme memang erat kaitannya dengan orang besar, namun orang "kecil" seperti saya juga memiliki idealismenya sendiri. Dan saya sangat ingin melakukan perubahan bagi sekitar saya dan bagi bangsa ini lebih luas. Idealisme saya adalah bagaimana keberadaan kita, gerakan kita dapat bermanfaat bagi orang banyak. Namun saya bukan lah orang yang memiliki kemampuan berorasi yang baik, berkomunikasi yang baik kesemua golongan seperti beberapa contoh kemampuan orang besar yg saya ungkapkan diatas. Saya memilih untuk menulis. Ya lewat tulisan saya berharap bisa memberikan dampak dan pengaruh. Saya setuju bahwa kata-kata adalah pedang yang sangat tajam, apabila dia digunakan dengan bijak maka kata-kata bisa jadi alat yg baik untuk dapat mempengaruhi. Dan memang keinginan saya untuk dapat berbagi pandangan juga untuk bertukar pandangan melalui bahan yang saya tulis, supaya kegiatan ini (menulis) juga menjadi sarana yang baik dalam mengaktualisasi diri agar lebih berkembang. Serta mungkin dorongan yang paling kuat untuk keyakinan saya ini adalah bahwa cenderung saya sulit menemukan media lain untuk mengungkapkan gagasan dan pandangan saya atas suatu kejadian. Contoh saja pada saat ini dimana di kampus saya sedang banyak terjadi "baku hantam" antar kubu calon ketua BEM, saya melihat bahwa dinamika politik tingkat kampus ini sangat menarik juga sekaligus kisruh. Ya kisruh krn kesemerawutan informasi yg mengalir dan akhirnya menjadi pengambilan keputusan singkat oleh beberapa pihak yang kemudian disebarluaskan melalui TULISAN dalam bentuk selebaran-selebaran kampus yang akhirnya byk pihak yg "terhipnotis" akan kata-kata yg terkandung. Sehingga saya yakin sekali bahwa dengan cara ini saya ingin memberikan kontribusi saya dan menjaga nilai-nilai kebenaran dalam diri saya serta mempeluas wawasan saya dengan menulis. Dan seperti yang diungkapkan oleh Pramoedya Ananta Toer, bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.... Semoga tulisan awal ini mengenai niatan saya dapat terus mendorong saya untuk memunculkan banyak tulisan-tulisan lain. Dari mulai kritik, pandangan, serta argumentasi yang selalu insyaAllah saya sertakan data dan bukti. Karena tulisan tanpa data bagi saya hanyalah sebuah teriakan tanpa makna...

Sekian

Wednesday, January 16, 2013

Donna Donna ....

On a wagon bound for marketThere's a calf with a mournful eyeHigh above him there's a swallowWinging swiftly through the sky

How the winds are laughingThey laugh with all their mightLaugh and laugh the whole day throughAnd half the summer's night

Donna, Donna, Donna, DonnaDonna, Donna, Donna, DonDonna, Donna, Donna, DonnaDonna, Donna, Donna, Don

"Stop complaining", said the farmerWho told you a calf to be?Why don't you have wings to fly withLike the swallow so proud and free?

How the winds are laughingThey laugh with all their mightLaugh and laugh the whole day throughAnd half the summer's night

Donna, Donna, Donna, DonnaDonna, Donna, Donna, DonDonna, Donna, Donna, DonnaDonna, Donna, Donna, Don

Calves are easily bound and slaughteredNever knowing the reason whyBut whoever treasures freedomLike the swallow has learned to fly

How the winds are laughingThey laugh with all their mightLaugh and laugh the whole day throughAnd half the summer's night

Donna, Donna, Donna, DonnaDonna, Donna, Donna, DonDonna, Donna, Donna, DonnaDonna, Donna, Donna, Don



Soal Nurani

Kejadian akhir-akhir ini sungguh sangat mengiris hati dan nurani. permasalahan penggusuran pedagang kaki lima di stasiun jabodetabek, banjir langganan yang mengepung jakarta dan membuat ibu kota “lumpuh” dari aktivitasnya yang padat, kasus vonis angelina sondakh yang menuai kritik karena dinyatakan ringan oleh beberapa kalangan, sampai kasus “candaan” calon hakim agung yang merendahkan korban pemerkosaan. Semua kejadian yang tak mengenakkan ini terjadi dalam rentang waktu yang saling berdekatan dalam sepekan terakhir ini. Ironi memang. Negeri ini seolah sedang dihadapkan pada suatu permasalahan kompleks dari mulai moral sampai bencana nasional. Permasalahan yang terjadi juga sering tak dapat diselesaikan, seolah ada saja hal yang menjadi penghambat atau mungkin bahkan penghalang? 

Saya tak tahu kenapa negeri ini selalu di uji dengan serentetan masalah yang begitu kompleks. Seperti selalu saja ada dan mengalir bagai air, tanpa bisa dibendung atau bahkan dihentikan. Saya sungguh mengira bahwa ini semua adalah peringatan yang diberikan oleh Sang Pencipta pada kita untuk kita bsia peduli terhadap masalah bangsa, masalah negeri ini, masalah kita bersama. Ya, memang semua kejadian pasti ada maksud dan tujuannya. Kita tak pernah tau apakah yang akan mungkin terjadi dari munculnya suatu kasus atau kejadian yang ada. Bisa jadi kejadian itu adalah jalan untuk menemukan jawaban atas permasalahan sebelumnya. Kasus “candaaan” oleh calon hakim agung misalnya, bisa saja hal tersebut mengigatkan kita akan bobroknya moral para pejabat negara, sampai bisa memerikan komentar bahwa kasus pemerkosaan adalah kasus yang tidak perlu ada hukuman yang berat bagi terdakwa, karena baik pemerkosa maupun yang diperkosa sama-sama saling menikmati? Hal ini bisa jadi bukti yang menegaskan bahwa para pejabat kita tentu bukan seorang dewa yang bersih tanpa dosa dan mulia. Mereka layaknya manusia yang perlu selalu diingatkan dan diteguhkan jalannya. Sepatutnya mereka juga sadar bahwa jabatan yang mereka emban memiliki fungsi yang sangat dirasakan bagi rakyat. Namun, mengapa sering sekali kita temukan bahwa para pejabat ini seolah tak mengerti perasaan rakyat, tak mengerti penderitaannya, atau memang tak mau mengerti?

Public Figure seharusnya mencontohkan hal-hal baik dan memberikan teladan bagi masyarakat yang melihatnya. Bukan menunjukkan keangkuhan dan bersikap seolah masyarakat ini buta dan tak mengerti. Apakah tindakan yang dilakukan oleh calon hakim agung itu dapat disebut “candaan” semata? JOKE dia pikir?  Tentu tidak kawan. Para korban pemerkosaan tentu mendapat beban psikis yang sangat besar, dan seketika sosok yang harusnya melindunginya membuat candaan tentang masalah tersebut tentu tidak dapat dikatakan hal itu hanya candaan semata, apalagi bagi seseorang yang mencalonkan diri sebagai Hakim Agung, seorang yang cerdas hukum harusnya tak melakukan lelucon semacam ini yang melecehkan orang-orang yang dirampas haknya dimata hukum.

Sikap tak mau tahu juga harusnya tidak boleh ada pada sosok seseorang pejabat. Memang sebagai pengemban tugas mulia mengurus masalah publik, seorang pejabat negara tentu dihadapkan oleh masalah-masalah rumit. Tapi bukankah memang seperti itu? Ayah saya pernah berkata “pekerjaan sebagai PNS atau pejabat negara itu adalah pekerjaan mulia, tentu harus diiringi dengan niat yang mulia pula. kalau kita mengincar jabatan saja atau mendambakan kekayaan setelah menduduki posisi tersebut, lebih baik jangan menjadi PNS atau pejabat negara! Karena kita tidak akan bisa kaya jika tidak melalui cara-cara “tertentu” selama menjadi abdi negara.” Seorang abdi negara adalah kata yang saya selalu ingat dari perkataan ayah saya ini. Ya, memang selayaknya sebagai abdi negara kita harus mengabdi dan kepada siapakah negara itu mengabdi. Sudah barang tentu kepada Rakyatnya kan? Negara kita demokratis, menganut sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Maka rakyat dan bangsa ini lah yang jadi tujuan pengabdian, bukan jabatan dan harta. Dan sikap tak mau tahu bukanlah sikap seorang abdi negara.

Hal ini juga yang terjadi pada kasus penggusuran Pedangang Kaki Lima di stasiun se-Jabodetabek. Mungkin hal ini yang saya amati secara langsung adalah penggusuran di stasiun Pocin kemarin. Saya sungguh sangat kecewa dengan perilaku yang ditunjukkan oleh pejabat PT.KAI dalam hal ini merujuk pada Direktur Utama PT.KAI yaitu Bapak Ignasius Johan yang menunjukkan sikap tak mau berunding, tak mau diskusi ketika ajakan mahasiswa, pedagang, kapolres depok, sampai komnas ham tak disambutnya dengan baik, bukankah menunjukkan bahwa adanya sifat tidak mau tahu dari seorang abdi negara? yang dituntut tidaklah susah, para pedagang ingin berdiskusi. Seharusnya secara regulasi resmi, PT.KAI lah yang terlebih dahulu mesti membuka jalur dialog sebelum penggusuran dimulai. Namun, bahkan ketika para pedagang yang memulai untuk itikad baik ini, ajakan ini pun tidak diindahkan. Kemana rasa peduli itu jika rasa ingin tahu saja sudah tidak ada?

Apa terlalu banyak hal yang bapak pikirkan atau mungkin terlalu sibuk? sehingga hanya sekedar “ngobrol” dengan masyarakat “kelas bawah” semacam pedagang ini bapak tidak mau? Apa bapak tidak mau karena kami tidak bisa “menyuguhkan jamuan” yang pantas buat bapak sehingga bapak malas datang ke gubuk reot tempat kami mencari nafkah?


Ahh, sudahlah. Mereka yang tertutup hati nuraninya, mana mungkin mau membuka mata apa lagi membuka hati? Saya disini berbicara soal nurani, berbicara tentang hak yang dirampas oleh pejabat-pejabat negara, berbicara soal moral bangsa, berbicara tentang negeri ini yang barangkali bisa menjadi salah satu cara saya peduli terhadap apa yang saya soroti tadi. Terhadap Negeri makmur nan indah ini, terhadap Indonesia. Bukan Bermaksud menggurui! Sekali lagi tidak. Saya tidak bermaksud menggurui, hanya melatih diri supaya peka dan peduli. Supaya hati ini mau tahu, mata ini mau lihat, dan raga ini mau merasakan. Bukan sekedar janji dan hipokrit yang diucapkan. Saya disini belajar dan hanya ingin peduli pada negeri ini.....



Salam Untuk Hati Nurani


dari kamar kecil tempatku beristirahat.


Friday, April 27, 2012

Share..

share yang di dalam kamus oxford berarti a part or portion of something owned, allotted to, or contributed by a person or group. Atau dalam arti yang mudah dimengerti adalah berbagi. 

kenapa gue angkat topik ini, padahal ini adalah postingan gue setelah sekian lama vakum nulis blog, karena malam ini gue baru saja men-share pengalaman dan kisah perjalanan hidup bersama seorang sahabat lama gue, sejak SMP. Luar biasa memang dampaknya, apalagi bagi seorang mahasiswa yang sering dilanda kegundahan dalam dunia dalam kampus nya. Bercerita atau sharing seperti dapat melarutkan semua endapan kegelisahan yang tersimpan dalam pikiran. Dan begitu pula alasan gue untuk yakin untuk menceritakan dan berbagi kisah ini, hal yang masih fresh itu, di blog gue ini setekah sekian lama gue vakum nulis haha.


Seperti yang sama-sama kita tahu, kalo dinamika kehidupan seorang mahasiswa itu sangat fluktuatif. kadang mudah sekali jatuh dalam titik terendah semangat atau depresi dalam menjalani kegiatan akademik kampus maupun untuk aktif berorginisasi. Terkadang pikiran-pikiran yang mengendap lama dan gak bisa dikeluarin bisa berakibat kehilangan motivasi. Dan gue mengalaminya. Gue sangat menyadari bahwa kehidupan saat kampus beda banget nget sama kehidupan lu ketika SMP, atau bahkan SMA. Gak segampang itu, gak sebebas itu, dan gak seberesiko dulu. Mungkin dulu ketika kita sekolah, masa-masa putih abu-abu gitu, bebas ya buat ngelakuin apa aja. Seperti belum ada pandangan jauh ke depan, bahwa ini loh dunia orang dewasa. Yang mau gak mau lu bakal hadapin nanti. Tapi buat apa lu mikirin hal itu ketika SMA? Gak, gue yakin mayoritas orang lebih memilih menghabiskan masa SMA nya dengan bersenang-senang, bercengkerama dengan teman-teman, karena masa seperti itu gak akan lu temui lagi nantinya. Betul banget! Gue gak menampik hal tersebut.


Perasaan berbeda justru muncul ketika lu mulai masuk kehidupan kampus. Itu bedaaa sebeda-bedanya. Lu mulai beranggapan bahwa kehidupan saat di kampus itu adalah titik dimana lu harus berubah, bahwa dunia orang dewasa yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Bahwa lu merasa gak segampang da sebebas dulu ketika SMA. Betul gak? Walau dalam beberapa hal gue yakini pendapat gue ini ga selalu bener. Karena nyatanya di kampus itu adalah ladang lu untuk berprestasi lebih jauh, menggali potensi diri lu yang terkukung ketika lu SMA atau mengembangkannya lebih jauh lagi, juga ketika kuliah lu merasa bahwa jadwal akademis lu ga terlalu diatur-atur dan lu bisa punya waktu lebih untuk mengeksplor diri lu. Yak pendapat ini memang bener, tapi yang jadi masalah itu timbul bahwa dengan segudang aktivitas itu. Akademis, organisasi, lomba, sosialita, dan lain sebagainya yang terkadang memberikan banyak pikiran. Banyak hal yang klo kita gak bisa mengalokasikan waktu dan tenanga dengan baik akan memberikan beban pikiran yang lama-lama mengendap dan membuat lu jatuhh pada titik jenuh, depresi, males dan serendah-rendahnya semangat dalam diri lu yang tadinya beranggapan bahwa kuliah ituuu "enak"!

Disini sebetulnya yang kita rasakan kita butuh adanya sahabat yang mendengar dan mengerti perasaan hati kita, yang bisa saling bertukar kisah hidup mungkin, berbagi semua kejenuhan yang dialami dalam hectic nya dunia kampus.

Dan saat itulah, gue bertemu dengan sahabat lama gue sejak SMP. Teman sepenanggungan, senasib, dan se'sekolah' haha. Padahal walau sampe saat ini gue satu kampus ama dia bahkan sampai satu fakultas. Gue jarang banget bisa ketemu sama dia. Selama ini gue kalo pun ketemu juga cuma jabat tangan dan ngucapin salam, ngobrol2 sedikit dan saling memperhatikan tampak fisik masing-masing. Memang klo diliat-liat lagi keadaan gue dan dia terlebih secara fisik udah carut-marut deh. Udah ga berbentuk, badan yang kurus, rambut yang kusut dan muka yang kucel yang nunjukin kalo diri lu lagi stress berat. Yaaa tapi cuma sekedar itu, cuma sekedar jabat tangan dan salam itu aja rutinitas yang sering gue lakuin ama dia semisal gue berpapasan sama dia ketika di kampus.

Tapi hal yang beda itu terjadi malam ini...

Gue gabisa mewakili dengan kata-kata apa yang sedang gue rasakan sampe saat sebelum gue ketemu kawan gue itu tadi. Stress, banyak amanah dan banyak tugas yg belum selesai. Deadline sana, deadline sini yang kadang mulai merubah gue menjadi orang yang apatis. Jenuh dan jujur muak dengan keadaan yang terus berulang. Dan tak jarang gue sering kali menghindar sementara waktu dari macam kesibukan dan aktivitas lain belakangan ini. Tapi ha itu juga gak memperbaiki keadaan, dan terkadang gue malah lebih ngerasa ada hal yang hilang, seolah ada sesuatu yang tertinggal dan gue sesali kenapa gue harus menghindar. Tapi malem ini saat gue bertemu dengan kawan lama gue, gue menceritakan banyak hal ke dia. Hal yang selama ini mengendap dan mengeras bagai kerak semen yang kering di jalan.

Dan hal serupa juga temen gue lakukan, dia bercerita tentang masalah-masalah terberat yang dia hadapi selama di kampus. Apa hal yang dia alami selama ini ketika mulai kuliah, sesekali pun kami tertawa bersama mengingat kejadian-kejadian lucu ketika masih sekolah dulu. Dan bahkan pembicaraan gue dengan dia melebar ke arah kabar keluarga masing-masing.

Gue menceritakan bagaimana jenuh nya gue dengan kehidupan kampus gue sekarang, yang gue rasa sangat jauh berbeda dari kehidupan SMA gue yang seru, fun dan asyik bersama teman-teman SMA dulu. Bagaimana teman-teman di kampus ada yang tidak bersahabat yang sering mengganggu konsentrasi ketika kuliah dan segala macamnya gue ceritakan. Melumerkan endapan kejengkelan yang selama ini mengerak di pikiran. Sampai saat giliran dia yang mulai bercerita tentang keadaannya yang membuat gue pun sedikit terhenyak. Tentang kabarnya yang juga tengah tidak semangat menjalani kehiduan kampus, kalau ia berencana untuk mencoba lagi SNMPTN tahun depan, tentang niatnya untuk pindah jurusan.

Sejenak gue diam, berpikir, apa bener yang barusan temen gue ceritakan. Kemudian gue berusaha menyakan kembali niatnya, dan dia pun dengan mantap menjawab iya. Gue tau temen gue ini memang dari awal passionnya di bidang elektronika, mesin dan hal-hal yang berbau sangat teknis dan sciencetis, tapi lalu dia tidak mendapatkan jurusan yang diinginkannya itu. Tapi yang ga bisa buat gue berpikir adalah apa dia mau merelakan waktunya 1 tahun di UI, sementara gue juga tahu keadaan financial keluarganya yang tidak jauh berbeda dengan keluarga gue kini.

Mungkin dulu klo gue ga dapet beasiswa, impian gue untuk kuliah ga mungkin bisa tercapai. Mau bayar uang pendidikan pake apa, itu selalu yang menghantui pikiran gue dulu. Tapi mendengar cerita dan kisah dari sahabat gue ini, seperti mengingat kembali masa-masa dulu ketika gue berjuang untuk kuliah di UI.

"loh gak gampang padahal orang bisa masuk jurusan arsitektur kayak lo, apalagi lo bakal ngulang tahun ini, apa lo gak nyesel nantinya? bukan hanya segi financial sih, mungkin juga dari waktu lu yang terbuang juga kan."

"ya tapi gue gak nemu passion gue disini gitu git, gue lebih suka kepada hal yang berbau science, hal tentang listrik dan mesin dan lain sebagianya.. agak nyesel sih, tapi ini juga demi kehidupan gue dan masa depan keluarga gue ke depannya. emang nyokap dan bokap awalnya ga setuju kayak seolah gue gak bersyukur padahal banyak orang yang dulu mau masuk jurusan yang gue dapet ini, tapi toh bayangannya gue gak nemu passion gue disini dan dari dulu pilihan nomor satu gue itu lu tau sendiri elektro. arrgh nyesel juga sih kenapa sekarang gini, kenapa dulu pilihan kedua gue gak ambil teknik komputer juga. cuma satu git, mungkin diliatnya gue nyerah disini, tapi daripada gue juga nyerah untuk masa depan gue dan gue nyerah untuk ngejar mimpi gue dapet elektro. daripada gue lulus dari sini tapi entah nanti gue mau jadi apa, gue mutusin untuk mantep di pilihan gue. demi masa depan keluarga gue, bukan cuma kepentingan gue semata. emang disangkanya gue bakal gak bersyukur dan kasianyang dulu pengen banget dapet jatah disini. tapi gue ngelakuin ini bukan karena gue iseng, tapi karena gue juga gatau kayak gini jadinya"

Dulu gue selalu beranggapan bahwa pasrah dan ikhlas adalah suatu hal yang sama. Namun saat gue denger cerita temen gue ini gue dengan sangat jelas dapat melihat perbedaannya. Analoginya sama ketika lu lomba lari, ketika di seratus meter terkahir dan masih ada satu musuh di depan lu, lu yang masih terus ngejar berusaha untuk menang namun kemudian tetap kalah lalu ketika lu bisa merelakannya itu yang disebut ikhlas. Tapi jika lu ememutuskan untuk berhenti mengejar sebelum lu tau apakah lu menang atau kalah maka saat itulah yang dikatakan pasrah.


Banyak hal yang tertuang pada malam ini, saling berbagi dan men-sharing pengalaman hidup dengan orang lain membuat kita lebih kuat dan yakin, bahwa masalah terberat tidak hanya dialami oleh kita pribadi.  Gue merasa lebih lapang dalam mengahadapi masalah yang gue hadapi. Dan perbincangan gue malam ini dengan sahabat lama gue bakal gue ingat dalam waktu yang lama. Di akhir waktu perbincangan gue dan dia kita sama-sama menyemangati satu sama lain, hal yang sangat indah bukan? ketika segolongan manusia yang banyak celah dan salah saling membantu untuk menyempurnakan bentuknya yang tidak sempurna.

Hfftt, good luck kawan! Semoga lu berhasil dengan mimpi lu untuk bisa dapet bangku elektro tahun depan. Mimpi tidak dibatasi waktu dan penghalang lain. Dan disaat apapun kita ngerasa jenuh dan desperate, yakin aja kalau bukan hanya kita yang mengalami masalah di dunia ini. Dan share kali ini telah menyelamatkan gue dari rasa lelah dan penat akan masalah gue. Kalo dengan share gue yakin endapan kerak semen di pikiran lu bisa lumer dan leleh. Buat temen gue, sukses terus brooo!! Wish you all the best. Ganbatte :D